Jumat, 29 Mei 2026

Isu Nasionalisme di Indonesia

Sumber Gambar : voaindonesia.com

Rasisme Sistemik: Perjuangan Identitas dan Keadilan Orang Asli Papua

Rasisme dan diskriminasi sistematis terhadap orang asli Papua di Indonesia semakin jelas terlihat setelah insiden serangan terhadap asrama mahasiswa Papua di Surabaya pada 2019. Human Rights Watch (HRW) mengkritik keras tindakan pemerintah Indonesia, terutama dalam merespons protes damai yang meluas melalui penangkapan sewenang-wenang, penyiksaan, dan kekerasan oleh pasukan keamanan. Pemerintah dinilai belum bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia ini.

Laporan HRW juga menyoroti diskriminasi struktural yang dialami orang asli Papua dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja. Papua Barat, tempat mayoritas orang asli Papua tinggal, mengalami ketidakadilan dalam pembagian sumber daya dan infrastruktur, yang lebih menguntungkan pendatang non-Papua. Pembentukan provinsi baru oleh pemerintah dianggap sebagai upaya untuk mengurangi populasi asli di tanah mereka.

Protes "Papuan Lives Matter" muncul sebagai respons terhadap rasisme dan pelanggaran hak-hak mereka, tetapi banyak aktivis Papua justru dihukum atas tuduhan makar. HRW menyerukan pemerintah Indonesia untuk mengakhiri rasisme sistematis dan mematuhi standar internasional tentang hak asasi manusia. Berita ini menunjukkan bahwa isu Papua bukan hanya soal politik dan ekonomi, tetapi juga masalah mendalam terkait identitas, hak asasi manusia, dan diskriminasi rasial.

Nilai nasionalisme di Indonesia berakar pada konsep persatuan dan kebinekaan, sebagaimana tercermin dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, diskriminasi dan rasisme yang dialami orang asli Papua menunjukkan kegagalan dalam mewujudkan nasionalisme inklusif. Nasionalisme yang seharusnya melibatkan seluruh kelompok etnis Indonesia, termasuk Papua, justru terkikis oleh praktik diskriminasi dan marginalisasi. Orang asli Papua sering kali dianggap sebagai pihak yang "berbeda" dan mendapat perlakuan tidak adil, yang menghambat integrasi mereka ke dalam narasi nasional Indonesia.

Adapula nilai toleransi yang mengajarkan penerimaan dan penghormatan terhadap perbedaan suku, agama, dan budaya, juga belum diterapkan sepenuhnya di Indonesia, terutama dalam kasus Papua. Pemerintah dan masyarakat masih cenderung mengabaikan hak-hak dan keadilan bagi orang asli Papua, yang membuat mereka terpinggirkan dari layanan publik, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Hal ini mencerminkan rendahnya kesadaran akan pentingnya toleransi dalam membangun bangsa yang damai dan setara.

Untuk mewujudkan nasionalisme sejati dan menegakkan nilai toleransi, pemerintah harus mengatasi masalah rasisme, menghormati hak-hak asasi masyarakat adat Papua, serta menciptakan kebijakan yang mendorong inklusivitas dan kesetaraan.

Sumber : Human Rights Watch (https://www.hrw.org/id/news/2024/09/19/indonesia-racism-discrimination-against-indigenous-papuans)

AUTHOR :
Nama : Nandina Fida Salsabilla
NPM : 23011010192
Kelas : Bela Negara G-113

 

BUDAYA/ JATI DIRI INDONESIA DI KABUPATEN TRENGGALEK

 

Warisan Budaya dan Ciri Khas Trenggalek: Kekayaan yang Patut Dibanggakan

Sumber : Pesonawisata.Trenggalekkab.go.id

Trenggalek, sebuah kota yang terletak di pesisir selatan Jawa Timur, menjadi saksi bisu kekayaan budaya Indonesia yang patut dibanggakan. Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, warisan budaya dan ciri khas Trenggalek menjadi salah satu penjaga jati diri bangsa. Dari seni tradisional hingga adat istiadat, setiap elemen budaya Trenggalek mencerminkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur dan menjadi simbol identitas masyarakatnya. Melestarikan budaya lokal seperti yang ada di Trenggalek bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi juga upaya mempertahankan jati diri Indonesia di tengah modernitas. Warisan budaya ini tidak hanya memperkaya khazanah budaya nasional, tetapi juga berperan penting dalam menanamkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan terhadap identitas bangsa yang beragam.

1. Tradisi Nyadran Dam Bagong

            


            Setiap tahun, saat musim panen tiba, masyarakat Trenggalek berkumpul di Dam Bagong untuk merayakan Nyadran. Di tengah suasana mistis yang diyakini sebagai penghormatan kepada arwah leluhur, mereka larungkan kepala kerbau ke sungai. Tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan juga ajang silaturahmi dan syukur atas berkah alam. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, beberapa elemen tradisi mulai memudar akibat pengaruh modernisasi. Namun, semangat melestarikan warisan budaya tetap menyala di hati masyarakat Trenggalek.


2. Tarian Turonggo Yakso

Sumber Gambar : HUMAS SETDA TRENGGALEK - Pemkab Trenggalek

                Tarian Turonggo Yakso dari Trenggalek bukan sekadar tarian, melainkan warisan berharga yang diwariskan turun-temurun. Setiap gerakan dan iringan musiknya mengandung makna mendalam, mencerminkan kearifan lokal dan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa. Dengan melestarikan Turonggo Yakso, kita turut menjaga identitas bangsa dan memperkaya khazanah budaya Indonesia.

3. Batik Motif Cengkeh Khas Trenggalek

                

                Batik Trenggalek, dengan motif cengkeh yang khas, adalah perwujudan keindahan dan keunikan budaya Indonesia. Setiap helai benang yang ditenun mengandung kisah tentang sejarah, tradisi, dan kearifan lokal. Dengan mengenakan batik Trenggalek, kita tidak hanya tampil anggun, tetapi juga ikut melestarikan warisan budaya bangsa. Batik ini adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya dan berinovasi. Melalui batik Trenggalek, kita menunjukkan kepada dunia bahwa budaya Indonesia adalah kekayaan yang tak ternilai harganya.

4. Makanan Khas Manco
                           


                
                Manco, jajanan khas Trenggalek, adalah perwujudan sederhana namun kaya akan makna. Terbuat dari bahan-bahan alami dan diwariskan secara turun-temurun, Manco adalah cerminan kearifan lokal masyarakat Jawa Timur. Setiap gigitan Manco membawa kita pada perjalanan menikmati cita rasa Nusantara yang autentik. Lebih dari sekadar camilan, Manco adalah simbol identitas budaya yang perlu dilestarikan. Dengan mendukung keberadaan Manco, kita turut menjaga keanekaragaman kuliner Indonesia dan memperkenalkan warisan budaya bangsa kepada dunia.

5. Bangunan Candi Brawijaya Trenggalek

Sumber Gambar : IDN times

                   Selama bertahun-tahun, sebuah bangunan di Trenggalek telah menjadi subjek perdebatan di kalangan masyarakat. Banyak yang meyakini bahwa bangunan tersebut adalah peninggalan era Kerajaan Majapahit, sebuah candi kuno yang menyimpan misteri sejarah. Namun, hasil penelitian mendalam oleh KoMunitas penggiat sejarah Trenggalek (Pesat), mengungkap fakta yang mengejutkan. Ternyata, bangunan tersebut bukanlah candi, melainkan sebuah replika yang sengaja didesain menyerupai candi angka tahun seperti yang kita temui di kawasan Candi Penataran. Dibangun pada peringatan HUT RI ke-24, bangunan ini memiliki tujuan mulia: membangkitkan rasa cinta terhadap sejarah dan kebanggaan terhadap peradaban masa lalu, khususnya kejayaan Kerajaan Majapahit. (sumber: Bioz TV)

Melestarikan warisan budaya dan ciri khas Trenggalek adalah tanggung jawab bersama yang harus dijaga agar kekayaan ini tidak hilang tergerus oleh zaman. Tradisi Nyadran Dam Bagong, Tarian Turonggo Yakso, Batik Motif Cengkeh, jajanan khas Manco, hingga bangunan yang menyerupai Candi Brawijaya, semuanya adalah bukti nyata bahwa Trenggalek memiliki kekayaan budaya yang patut dibanggakan. Setiap tradisi, kesenian, dan kuliner lokal menyimpan cerita yang sarat makna tentang sejarah, nilai-nilai, dan jati diri masyarakatnya. Dengan melestarikan dan menghargai kekayaan ini, kita tidak hanya menjaga identitas Trenggalek tetapi juga turut melindungi keanekaragaman budaya Indonesia. Melalui langkah kecil seperti mengenal, mencintai, dan mendukung budaya lokal, kita dapat memastikan bahwa warisan berharga ini tetap hidup dan terus berkembang di tengah tantangan globalisasi, menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk tetap bangga dengan akar budaya mereka.

AUTHOR 

Nama : Nandina Fida Salsabilla

NPM : 23011010192 

Kelas : G113 - BELA NEGARA

Minggu, 12 Februari 2023

Tenggelamnya Karakter Siswa Pasca Pandemi: Mudahkah Membangun-Nya?

Indonesia merupakan salah satu negara yang terkenal dengan ciri khas sopan-santun dan ramah tamahnya oleh wisatawan mancanegara. Para wisatawan mancanegara berbondong-bondong datang ke Indonesia, selain untuk berwisata juga untuk mengenal budayanya yang terkenal unik dan penduduknya yang sangat ramah. Padahal nyatanya, karakter ramah tamah dan sopan santun itu semakin menurun dari tahun ke tahun. Hal itu dikarenakan adanya arus globalisasi yang masuk ke Indonesia semakin terus menerus, yang membuat seseorang memiliki sifat individualis karena kurangnya bersosialisasi dengan masyarakat dan mengurung diri di rumah, karena semuanya serba instan lewat gadget ataupun aplikasi belanja online yang sangat mudah tentu juga murah. Sehingga pendidikan karakter yang harus dimiliki seorang pelajar sebagai anak bangsa untuk meneruskan dan mewujudkan cita–cita bangsa kini pun semakin terkikis dan hampir hilang dari peradaban. Apalagi ketika pandemi covid-19 menyerang Indonesia.

Pandemi covid-19 telah mewabah di Indonesia pada Maret, 2020. Dapat kita ketahui, akibat dari pandemi covid-19 yang menyebar luas di Indonesia, salah satunya di sektor pendidikan. Pemerintah menganjurkan untuk belajar di rumah secara daring (dalam jaringan). Pelaksanaan sekolah secara daring yang berlangsung selama kurang lebih dua tahun, tentu memberikan dampak bagi siswa. Jangka waktu yang tidak singkat tersebut, mempengaruhi karakter siswa. Siswa yang awalnya bersekolah rajin secara tatap muka dengan guru, kini harus belajar secara online lewat gadget, laptop, atau alat komunikasi lainnya. Dengan adanya pandemi covid-19 tersebut, tentu saja menambah potensi hilangnya karakter siswa yang harus diberikan dan di ajarkan dalam dunia pendidikan.

Apakah itu mungkin terjadi? Tentu saja, bagaimana tidak? Pada masa pandemi covid-19 karena terbatasnya interaksi antara guru dengan murid memberikan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Seorang guru menjadi sulit untuk berkomunikasi dan membimbing muridnya dalam belajar. Bahkan, ada beberapa guru yang tidak mengenali wajah muridnya akibat terbatasnya interaksi tersebut. Padahal pembentukan karakter siswa akan mudah dibentuk ketika mereka bertemu secara langsung. Kalaupun seperti itu, bagaimana mungkin seorang guru bisa memastikan bahwa muridnya benar-benar belajar dan paham akan materi yang diberikan? Hal itu sangat sulit.

Para guru dalam kegiatan belajar secara daring pun kebanyakan hanya memberikan tugas, absensi dan materi yang dipelajari tanpa dibahas secara mendalam. Tidak jarang, seorang pelajar menjadi malas untuk bersekolah secara daring karena lebih mementingkan dunianya sendiri, seperti bermain game, tidur, atau kegiatan yang tidak penting lainnya yang dapat mengganggu konsentrasinya dalam belajar. Pendidikan karakter yang harus diberikan kepada siswa pada saat belajar, kini tinggal angan dan semakin diabaikan. Peristiwa ini menjadikan peran orang tua sangat penting untuk membantu guru membentuk karakter siswa ketika siswa belajar dari rumah.

Pendidikan karakter atau biasa disebut pendidikan moral tersebut merupakan suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada siswa (peserta didik) yang di dalamnya terdapat kompoten pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut. Secara umum fungsi pendidikan ini untuk membentuk karakter seseorang sehingga menjadi pribadi yang bermoral, berakhlak mulia, bertoleran kepada sesama, tangguh dalam menghadapi suatu hal, dan tentunya berperilaku baik yang sesuai dengan tatanan norma yang berlaku dalam masyarakat Indonesia. Sehingga pendidikan karakter ini sangat penting bagi seorang siswa untuk masa depan yang akan datang nantinya. 

Pendidikan karakter pastinya tidak jauh-jauh dari pendidikan intelektual atau pendidikan akademik. Di masa sekarang ini, pendidikan intelektual atau biasa disebut pendidikan akademik merupakan suatu hal yang dianggap paling utama dalam sebuah pendidikan. Seorang pelajar yang memiliki pendidikan intelektual baik, tentu saja sudah dicap sebagai pelajar yang paling unggul dari pelajar lainnya, tanpa memperhatikan pendidikan karakter (moral) yang dimiliki pelajar tersebut. Padahal kenyataannya pendidikan karakter merupakan hal yang paling utama dari segi apapun. Hal itu dikarenakan, karakter seseorang dapat menentukan kedudukan, harga diri, maupun tingkatan seseorang dalam hidup bermasyarakat di masa yang akan datang. Seseorang yang memiliki karakter yang baik pasti akan lebih dihargai dan disegani oleh orang lain.

Sering kita temui dalam kehidupan sehari – hari, terdapat seseorang siswa memiliki kemampuan intelektual yang tinggi dibanding siswa yang lainnya, tetapi memiliki karakter atau moral yang kurang baik. Contohnya pada beberapa kasus, seperti tidak memiliki sopan santun kepada guru, berbicara seenaknya tidak sesuai dengan tata krama, membolos pada jam pelajaran, tawuran antar sekolah, melakukan tindakan kriminal, dan lain- lain. Tidak semua siswa bertindak seperti itu. Masih terdapat siswa yang memiliki intelektual tinggi dan berkarakter baik di kehidupan sehari-hari. Tetapi itu sudah sangat jarang kita temui, mungkin hanya terdapat satu banding tiga di masa sekarang ini. Siswa yang memiliki karakter atau moral yang baik, pasti mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi atau biasa saja seperti pada umumnya. Tutur katanya lembut, sopan, mendengarkan jika diberi nasihat dan masih banyak lagi. Itu yang sangat diperlukan untuk kehidupan di masa ini dan di masa yang akan datang.

Di masa yang akan datang terutama dalam dunia kerja, pendidikan karakter jauh lebih penting dibandingkan pendidikan intelektual. Hal itu karena pendidikan karakter yang sudah tertanam sejak kecil membuat seseorang menjadi terbiasa melakukan hal-hal yang sopan dan sesuai dengan tatanan di masyarakat tanpa ada sebuah paksaan dari dirinya sendiri maupun orang lain. Sebenarnya pendidikan intelektual juga sama pentingnya. Namun, pendidikan intelektual bisa dipelajari maupun dikembangkan kapan saja dan di mana saja sesuai dengan keinginan dari diri orang tersebut. Pendidikan karakter seharusnya diberikan dalam sebuah kegiatan pembelajaran. Entah di rumah, sekolah, atau di mana pun. Selain belajar untuk menambah ilmu atau wawasan, karakter yang baik harus diterapkan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran agar menjadi seimbang. Seorang yang memiliki pendidikan intelektual yang baik akan memiliki pendidikan karakter yang baik pula. 

Mudahkah Membangun Karakter Seseorang Siswa?

Dalam membangun karakter ini diperlukan dukungan dari orang-orang terdekat seperti orang tua, maupun guru di sekolah juga berperan penting. Peran orang tua dalam membentuk karakter anak, dapat di mulai sejak usia dini dengan menanamkan nilai- nilai dan norma-norma serta pendidikan agama yang telah di wariskan secara turun-temurun dalam keluarga tersebut. Seorang anak yang memiliki kebiasaan baik sejak kecil, pasti memiliki karakter yang lebih baik saat ia dewasa. Jika memang mereka tahu kalau ia berbuat salah, maka anak akan menghentikan dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.  

Di samping itu, seorang guru harus paham dan menguasai bagaimana cara membangun karakter siswa tersebut. Karena peran guru di sekolah selain sebagai pendidik, juga sebagai orangtua ke-dua di sekolah. Lalu bagaimanakah cara guru membangun karakter siswa tersebut? Dengan memberikan apresiasi dalam setiap pencapaiannya. Karena karakter positif siswa dapat terbentuk jika dirinya merasa dihargai atas usaha belajarnya. Baik suatu pencapaian yang maksimal ataupun belum maksimal. Selain itu guru juga bisa memberikan sebuah teladan dan pesan moral yang baik bagi siswa dalam sebuah pembelajaran. Jika seorang guru memberi teladan yang baik, seorang siswa yang baik pasti juga akan mengikuti apa yang dicontohkan oleh guru tersebut. Karena pada dasarnya seorang siswa adalah seorang anak yang memerlukan sebuah tuntunan dari orang tuanya di sekolah atau di manapun. Sebuah pengalaman yang inspiratif pun juga sangat berdampak pada karakter siswa, karena dapat memberi motivasi baru. Siswa menjadi lebih tau bagaimana cara-cara untuk mengembangkan diri lebih dari apa yang telah ia miliki untuk kehidupannya nanti.

Tetapi dalam membentuk sebuah karakter, diri sendiri juga memiliki peran yang sangat penting. Pada dasarnya karakter yang dimiliki setiap orang berbeda-beda.Seorang anak yang baik dan memiliki nilai agama yang baik pasti tentu memiliki kemampuan akademik maupun nonakademik yang baik. Apalagi pada masa sekarang yang serba mudah ini, hanya agama lah yang menjadi tiang utama dalam menjalani kehidupan.

Beberapa cara untuk membentuk karakter yang baik dalam diri sendiri dapat dimulai dengan cara menghargai diri sendiri. Seseorang yang bisa menerima dirinya sendiri baik dalam bentuk jasmani dan rohaninya pasti akan lebih mudah mencintai dirinya atas karunia yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Bagaimana bisa membentuk karakter diri tanpa menghargai keadaan dirinya sendiri? Tentu sangat sulit dilakukan. Semakin kita menghargai diri sendiri , semakin memudahkan kita dalam membangun sebuah karakter baik dalam diri kita sendiri.Selain itu, kita juga harus bisa untuk mengendalikan diri sendiri. Kita tidak boleh terpengaruh dengan hal-hal yang tidak baik di sekitar kita, seperti pemilihan teman bergaul dan lingkungan yang tepat. Berteman dengan orang yang salah juga dapat mempengaruhi kita, jika kita tidak bisa mengendalikan diri kita sendiri.

Akhir Kata 

Dengan demikian, pendidikan karakter merupakan hal yang sangat penting dan harus dimiliki oleh setiap siswa sebagai penerus generasi bangsa. Sebagai seorang pelajar harus memiliki pribadi yang bermoral, berakhlak baik dan memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap sesama. Pelajar yang memiliki karakter baik akan mempengaruhi harga diri dan kedudukan mereka dimasa mendatang tentunya dalam hidup bermasyarakat. Apalagi adanya globalisasi yang terjadi di Indonesia menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi karakter siswa. Dengan adanya perkembangan globalisasi yang semakin pesat dan modern membuat melemahnya karakter siswa dari segi sosialisasi. Banyak siswa bersikap individualis dan lebih mementingkan gadget.

Selain itu, pandemi covid-19 yang mewabah di Indonesia belakangan ini mengharuskan para siswa belajar secara daring, yang menyebabkan pembentukan karakter siswa menjadi tidak maksimal. Pembentukan karakter itu sendiri memerlukan dukungan dari orang-orang terdekat dan juga lingkungan sekitar, seperti orang tua ketika di rumah dan guru ketika di sekolah. Karakter dapat dibangun dari dalam diri sendiri karena pada dasarnya karakter setiap orang itu tidak sama. Pembentukan karakter dari dalam diri sendiri dapat dibangun melalui cara orang tersebut menghargai dirinya sendiri dan bagaimana caranya mengendalikan dirinya. Jadi, ketika ingin membentuk karakter diri yang baik lakukan dengan tepat dan yang sesuai dengan diri kita sendiri. Jangan pernah membentuk karakter diri dengan berkaca dari hidup orang lain. 

DAFTAR PUSTAKA

Smkwidyanusantara.2019.”Pendidikan Karakter : Pengertian, Fungsi, Tujuan, dan Urgensinya”. https://smkwidyanusantara.sch.id/read/5/pendidikan-karakter-pengertian-fungsi-tujuan-dan-urgensinya#:~:text=Pendidikan%20karakter%20adalah%20suatu%20sistem,untuk%20melakukan%20nilai%2Dnilai%20tersebut , diakses pada 05 Februari 2023 pukul 23.47.

Maretha, Chintya. 2022. “9 Cara Membentuk Karakter Diri di Dunia Kerja”, https://glints.com/id/lowongan/cara-membentuk-karakter-diri/,diakses pada 06 Februari 2023 pukul 21.10. 

Rizma, Peppy.2022. “Ini 5 Cara Membangun Karakter Siswa yang Bisa Dilakukan”, https://www.smadwiwarna.sch.id/cara-membangun-karakter-siswa/ , diakses pada 06 Februari 2023 pukul 13.12.

Selasa, 10 Januari 2023

KDRT : Vena Melinda Vs Ferry Irawan


Siapa tak kenal artis bernama Venna Melinda. Venna Melinda sangat viral dengan kasusnya baru-baru ini. Artis bernama lengkap Venna Melinda Bruglia itu merupakan salah satu artis kelahiran Surabaya pada tanggal 29 Juli 1972 dan saat ini berusia 50 tahun. Artis Venna Melinda memulai karirnya dengan berakting di film Catatan Si Boy II. 

Selain menjadi artis, Venna Melinda yang diketahui publik sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sejak tahun 2018 itu juga merupakan Puteri Indonesia DKI Jakarta dan Miss Universe Indonesia pada tahun 1994. Venna Melinda pernah menikah dengan Ivan Fadilla Soedjoko pada tahun 1995. Namun pernikahan tersebut kandas setelah 18 tahun dan meninggalkan 2 orang putra bernama Verrell Bramasta dan Athalla Naufal. Sudah menjadi rahasia publik bahwa pada tahun 2022, Venna Melinda menikah lagi dengan laki-laki bernama Ferry Irawan. Dengan lelaki inilah kasus Venna Melinda mencuat dengan dugaan KDRT. 

Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialami oleh Venna Melinda beredar luas di media diawali dengan munculnya foto Venna Melinda yang berlumuran darah di hidung dan mulutnya. Diduga kekerasan tersebut terjadi di salah satu hotel di Kediri, Jawa Timur pada tanggal 08 Januari 2023. Petugas hotel melaporkan bahwa Venna Melinda keluar dari kamarnya sembari berteriak dengan hidung dan mulut yang sudah berlumuran darah. Venna meminta kepada petugas hotel untuk memanggil pihak kepolisian. Pihak kepolisian Kediri Kota menerima laporan tersebut dan melakukan penyidikan, kemudian Venna melaporkan suaminya dan membuat laporan visum. Ferry Irawan tak banyak bicara usai diperiksa terkait laporan KDRT oleh istrinya. Namun, kini ia telah mengakui perbuatan KDRT kepada istrinya tersebut.

Perlakuan KDRT tersebut terjadi diawali dengan adanya cekcok rumah tangga yang semakin sering terjadi karena Ferry tak mau istrinya kembali ke dunia politik lagi. Alasan Ferry melarang Venna sang istri kembali ke dunia politik lagi adalah rasa cemburu Ferry yang tidak ingin istrinya bertemu dengan banyak laki-laki, pengusaha-pengusaha dan politisi. Venna Melinda memang pernah mengungkapkan sosok suaminya, Ferry Irawan merupakan sosok yang tegas dan cemburuan, namun Venna sangat menyayangkan suaminya bakal setega ini dengannya. Kedua anak kandungnya Verrel dan Athalla serta Vania yang merupakan anak angkatnya menjadi kekuatan terbesar bagi sosok Venna Melinda saat ini. Ketiga anaknya selalu berada disamping ibunya dan melindunginya. Di sisi lain, Ferry Irawan sudah meminta maaf kepada Venna Melinda melalui video call. Namun, Venna tetap tidak akan mencabut laporan atas kasus tersebut. 

Itulah artikel seputar kasus KDRT Venna Melinda yang sedang mencuat di awal tahun 2023 ini. Semoga kasus KDRT seperti ini tidak ada lagi dan semoga dengan adanya kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi pasangan-pasangan agar tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Masih banyak cara lain untuk menyelesaikan masalah secara baik-baik dengan pasangan. 

Rabu, 30 November 2022

Memetik "Buah" di Balik Tradisi Bajak Sawah


Di era modern saat ini, hampir semua aspek kehidupan tidak terlepas dari teknologi. Adanya teknologi sangat memudahkan manusia dalam menjalankan aktivitas, terutama dalam bekerja, termasuk dalam dunia pertanian.  Penggunaan teknologi pertanian sedikit banyaknya pasti membawa perubahan baru dalam kehidupan manusia.


Penggunaan mesin traktor untuk membajak sawah merupakan teknologi baru dalam dunia pertanian. Kemunculanya sangat dibutuhkan dalam rangka mempercepat pembajakan. Cara lama yang menggunakan tenaga hewan seperti kerbau atau sapi mulai ditinggalkan. Semakin kesini semakin langka kita dapati seekor kerbau menggarap sawah. Pemandangan seperti itu sangat jarang kita jumpai di sawah-sawah pinggiran jalan. Yang sering terlihat justru seorang operator dengan traktornya.


Peralihan metode tersebut tentu memiliki dampak yang kadang tidak disadari. Penggunaan traktor tentu lebih efisien dibanding penggunaan kerbau secara kapasitas luas penggarapan per satuan waktu. Namun dalam setiap aksinya, penggarapan menggunakan kerbau memiliki efek samping yang sangat baik. Walaupun terlihat jijik, kotoran yang dikeluarkan oleh kerbau di sawah sangat baik untuk kesuburan tanah. Selain itu membajak dengan cara tradisional ini memiliki nilai seni dan juga menjadi aksi wisata.


Dari kegiatan membajak sawah tersebut banyak nilai-nilai kehidupan yang terkandung didalamnya, salah satunya "Sekeras apapun kita melakukan usaha dengan cara yang berbeda pasti akan membuahkan hasil yang sama".


Artikel ini ditulis berdasarkan https://pingkanhendrayana.blogspot.com/2021/06/memetik-buah-di-balik-tradisi-bajak.html?m=1

Isu Nasionalisme di Indonesia

Sumber Gambar :  voaindonesia.com Rasisme Sistemik: Perjuangan Identitas dan Keadilan Orang Asli Papua Rasisme dan diskriminasi sistematis t...